Business Tips

10 July 2020

Pelajaran yang Bisa Diambil dari Pemboikotan Iklan di Facebook

Apakah brand besar akan kembali beriklan lagi di Facebook?
176 Views
Pelajaran yang Bisa Diambil dari Pemboikotan Iklan di Facebook UnslashNe on Brand
Gerakan #StopHateforProfit yang ramai dilakukan membuat Facebook menjadi sorotan dunia. Melalui website Stop Hate Profit, berbagai organisasi kemanusiaan bersatu membentuk Anti-Defamation League dan mengajak berbagai brand besar untuk mendukung aksi mereka dengan tidak melakukan iklan di Facebook. 
 
Di dalam situs Stop Hate Profit, Anti-Defamation League mengutarakan kekecewaan mereka sehingga melakukan tindakan pemboikotan terhadap Facebook. Salah satu bentuk kekecewaannya adalah tidak adanya tindakan tegas dari Facebook untuk menghentikan ujaran kebencian dan hasutan yang dilontarkan terhadap para demonstran yang memperjuangkan keadilan rasial di Amerika Serikat, seperti kasus kematian yang menimpa George Floyd.
 
Hingga sampai hari ini, ratusan brand besar dunia ikut berpartisipasi untuk meggaungkan gerakan #StopHateforProfit. Beberapa brand besar di antaranya adalah Adidas, Boeing, Honda, Levi's, Reebook, Unilever, dan Vans. Mereka dengan gamblang mengumumkan ikut memboikot Facebok hingga akhir tahun ini.
 
Dikutip dari BBC, menyikapi pemboikotan yang ramai dilakukan oleh banyak brand besar, Mark Zuckerberg tidak gentar dengan aksi pemboikotan yang terjadi. Menurutnya, para pengiklan akan kembali ke Facebook secepatnya. 
 
BBC juga menambahkan, menurut pihak Facebook, aksi pemboikotan iklan bukanlah masalah utama. Namun reputasi dan hubungan dengan partner menjadi hal yang paling penting untuk segera diselesaikan, ketimbang masalah finansial. 
 
Masalah reputasi bagi perusahaan memang memiliki kedudukan yang begitu krusial. Meski tak terlihat, namun dampak yang ditimbulkan begitu besar karena berhubungan dengan integritas yang dimiliki oleh perusahaan. 
 
Menurut Fombrun, seorang Chief Executive Officer of Reputation Institute, ada empat sisi reputasi perusahaan yang perlu ditangani. Pertama kredibilitas di mata investor, terpercaya dalam pandangan karyawan, keandalan di mata konsumen, dan juga tanggung jawab sosial. 
 
Kejadian yang dialami Facebook telah memengaruhi semua empat sisi reputasi perusahaan dan Facebook memiliki pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk mengembalikannya ke posisi semula.
 
Namun sebagai platform dengan pengguna mencapai 2.5 miliar setiap bulannya, Facebook memiliki kekuatan yang begitu besar sebagai platform pemasaran. Jadi tak heran jika Areeq Chowdhury, selaku Chief Executive memberikan pendapat bahwa banyak brand yang memboikot akan kembali menggunakan Facebook untuk beriklan dan itu sejalan dengan kepercayaan Mark.
 
Lantas apa yang bisa dipelajari dari kasus pemboikotan Facebook? Sebagai brand yang tak bisa lepas dari pemasaran, menerapkan multi-channel menjadi langkah yang tepat. Multi-channel adalah pemasaran yang dilakukan melalui berbagai channel dengan tujuan menjangkau lebih banyak audiens. 
 
Tidak hanya media sosial, website, serta media elektronik, WiFi branding atau WiFi ads menjadi cara pemasaran baru yang bisa dilakukan brand untuk menjangkau lebih banyak potensial audiens. Berbeda dengan media pemasaran lainnya, WiFi ads mampu memastikan bahwa iklan yang ditayangkan benar-benar dilihat oleh manusia dan bukanlah bot. 
 
 
 


bangga
terinspirasi
terhibur
suka


0 Komentar